Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang memiliki keragaman hayati cukup tinggi, kini diperhadapkan dengan berbagai ancaman kelestariannya. Aktivitas pembangunan yang eksploitatif adalah salah satu kontributor perusak kelestarian Meru Betiri. Ancaman dari pelaku bisnis tidak saja berbahaya bagi kelestarian Meru Betiri, juga berdampak serius bagi kehidupan orang orang kampung di sekitar kawasan Meru Betiri.
Dilihat dari segi Perkebunan
Ada enam Perkebunan swasta yang berhimpitan bahkan masuk dalam bagian kawasan enclave Meru Betiri. Rekaman jadual harian buruh kebun dan kajian mata pencaharian menunjukkan bahwa pekerja kebun memiliki waktu luang yang hampir sama dengan buruh tani pada setiap harinya. Waktu luang ini bertambah saat kebun tidak banyak membutuhkan tenaga kerja, waktu luang ini memungkinkan mereka untuk memasuki hutan guna menambah pendapatan. Obrolan tak resmi dengan masyarakat menyebutkan bahwa pendapatan buruh lepas tak mencukupi kebutuhan harian pekerja kebun di sekitar kawasan TNMB.
Kebijakan terbaru yang mengejutkan adalah berkurangnya TNMB seluas 2155 ha menjadi milik perkebunan, tentu saja ini akan mengurangi hak TN dan kewajiban kebun dalam pengelolaan TNMB. Implikasi yang terlihat dari pelepasan ini adalah lemahnya kerjasama dalam pengamanan pencurian telur penyu di pantai Sukamade. Buruh kebun memiliki waktu luang antara lima sampai enam jam setiap harinya. Waktu luang ini bertambah saat kebun tidak banyak membutuhkan tenaga kerja.
Data di atas baru berasal dari 2 kawasan perkebunan yang dulunya berstatus enclave, yaitu Bande Alit dan Sukamade. Lain lagi dengan kebun kebun yang berbatasan dengan atau ada di sekitar Taman Nasional, seperti kebun Sumber Jambe, Malangsari, Kalisanen dan lainnya di bawah pengelolaan PTPN XII. Pada musim panen tembakau kebutuhan bambu untuk bahan gudang, sujen dan glanthang membutuhkan 10.327.763 batang bambu per tahun. Dalam konteks ini, kegiatan perkebunan menjadi faktor penting terjadinya percepatan kerusakan kawasan Meru Betiri, karena para buruh kebun yang berpenghasilan kecil mencari penghasilan tambahan dari kawasan Meru Betiri sehingga memacu terjadinya eksploitasi hasil hutan, terutama bambu.
Di sisi lain, perusahaan perkebunan yang telah berlangsung lama, sejak tahun 1950, memberi peluang kerja pada penduduk lokal. Kini buruh kebun menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan begitu saja dari kawasan taman nasional. Mereka memanfaatkan kawasan taman nasional untuk mencari rumput, kayu, rotan, madu dan burung.
Kelestarian Meru Betiri ternyata berperan penting bagi keberlanjutan usaha perkebunan. Sumber air dari Meru Betiri digunakan oleh perusahaan untuk penyiraman tanaman, pengolahan hasil kebun, dan menjadi tempat pembuangan limbah pengolahan. Air dari Meru Betiri digunakan oleh perkebunan untuk kebutuhan sumber air minum dan kebutuhan sehari hari lainnya.
Fakta fakta di atas menunjukkan bahwa ada ketergantungan yang sangat erat antara perkebunan dan buruh kebun di satu sisi dengan kawasan Meru Betiri di sisi lain. Sayangnya belum terbangun pola hubungan yang lebih baik antara usaha perkebunan dengan kawasan Meru betiri, khususnya dalam menjaga kelestarian kawasan. Rendahnya upah buruh kebun seharusnya menjadi kepedulian semua pihak, karena upah yang rendah ini menjadi pendorong eksploitasi kawasan Meru Betiri menjadi mungkin.
Artikel di atas masih diambil dari sebuah buku yang diterbitkan oleh JATAM, dengan judul Menambang Petaka Di Meru Betiri. Sengaja kami tuliskan kembali untuk anda, semoga bermanfaat.
0 komentar:
Posting Komentar